Tampilkan postingan dengan label guru kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru kehidupan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 September 2011

Mbaknya ternyata lebih manusia


siang begitu terik, pejalan kaki mondar-mandir dengan wajah cemberut. Mungkin uang THR nggak turun-turun atau mungkin sebal dengan dirinya sendiri karena nggak ada warung yang buka. Ya, beginilah wajah Jakarta, walau ada sebagian pengecualian namun hal begini sudah menjadi “adat” kaum metropolitan.
“mas, boleh minta apinya”

Seorang mbak mbak tiba-tiba menghampiri Andi yang sedang asyik menyedot candu nikotinnya. Dengan cekatan si Andi mempersilakan bara yang ada di lingkar jarinya untuk diberikan kepada mbak mbak itu. Sebatang samsu pun segera menyala dengan kepul asapnya.

“makasih mas, masnya mau kemana?”

Pikiran jelek sekilas berkelebat dalam otak si Andi. Apa lacur, tampang si mbak mbak telah memaksa pikirannya untuk menyimpulkan bahwa dia bukan wanita baik-baik. Akan tetapi, ia cuma membatinnya saja.
“oh, saya mau ke Senen mbak”

“bagaimana kalau kita sewa bajaj saja, kebetulan aku juga searah kok mas. Kalau dari sini mungkin sekitar 30 menitan. Paslah, 30 menitan lagi biasanya keretanya dateng”

“hm… ya okelah mbak kita sewa bajaj”

Hawa panas kian terasa dalam kendaraan. Kepulan asap tak menjadi soal untuk sesama penikmat nikotin, malah membuat semakin akrab suasana. Mereka saling menikmati kebersamaan dalam bahasa diam sampai seorang anak kecil menyanyikan kidung sucinya.

“lhoh Sah, kok sendirian? Ibunya kemana?”

Mbak mbak tadi menegur sang seniman kecil, sejurus kemudian candu nikotin dihisapnya dalam-dalam.

“ibu nggak ikut mbak, lagi istirahat. Katanya agak pusing”

“oo… ya sudah, hati-hati ya..”

Beberapa uang ribuan dikeluarkan si mbak tadi dan diberikan kepada seniman kecil itu.

“makasih ya mbak Santi”

Melihat adegan nyata di depan matanya, Andi tampak keheranan. Ia mulai menyelidik perihal jati diri teman perjalanannya itu.

“kok pengamen itu bisa kenal mbaknya”

“hm… aku ini kebetulan sering “silaturahmi” dengan mereka mas. Itu yang tinggal di kolong jembatan, jadi hampir semuanya kami saling kenal. Beberapa minggu ini aku belum sempat mengunjungi mereka karena memang lagi sibuk di teater l**kar. Minggu-minggu ini kami banyak acara”

“ooo… begitu ya mbak “

“sampai Senen ongkosnya 12 ribu mas. Aku 7 ribu masnya 5 ribu saja gimana”

“ya, makasih ya mbak”

Sesampainya di Senen akhirnya pertemuan itu berakhir. Sebuah pertemuan singkat telah membawa perenungan mendalam bagi Andi. Sebuah pelajaran berharga baru saja menghampar dihadapannya. Sebuah fragment dalam kitab hidupnya. Membawanya dalam sebuah kesadaran baru. Di dalam gerbong kereta Andi masih saja merenung atas kejadian yang baru saja ia alami. 

“mbaknya ternyata lebih manusia” , batinnya.

[Diangkat dari kisah nyata seorang saudara]

Mungkin kita berhasil menjadi dokter, pengacara, pengusaha, politikus, penyair, agamawan, ataupun spiritualis. Namun, apakah kita akan berhasil menjadi manusia? Banyak dari kita mengaku sadar namun perkataannya jauh dari sadar. Kita sibuk dengan kesadaran tanpa sadar alias lupa untuk apa kesadaran itu. Beberapa di antara kita bahkan saling hantam-menghantam, saling memaki, dan rebutan kebenaran. Dimana letak kesadaran? Ada yang bilang di ajna, ada yang bilang di annahata. Itu oke-oke saja, monggo kerso, namun seorang pengamen kecil tak butuh ceramah perihal letak kesadaran. Untuk sekarang yang mereka pikir adalah bagaimana besok bisa makan. 

Catatan:
Iri, dengki, hasut, caci-maki, hujat menghujat letaknya masih dalam tataran nafsu. Nafsu itu nar bukan nur. Istilah lainnya penyakit hati. 

Kita melihat dunia tidak dengan apa adanya namun seringkali berdasarkan persepsi kita.

Shahasrara-annahata-swadisthan adalah tiga serangkai cakra dimana jika salah satu terbuka akan menstimulasi lainnya untuk terbuka. Beberapa paham menyebutnya baitulmakmur-baitulmukaram-baitulmukhadas. 

Layaknya perseteruan antara Blok Barat dan Blok Timur, semua yang terjadi adalah biasa dan normal saja mengikuti hukum keseimbangan. Pada akhirnya Soekarno pun bikin Non-Blok hehehe. 

Aku tak bisa bicara, aku tak bisa diam. Diamku adalah bicara, bicaraku adalah diam.

Rabu, 01 Juni 2011

Masyarakat super

Masyarakat kita itu memang super hebat. Mereka mampu bertahan diterjang ketidakpastian hidup. Tak peduli di pimpin tugio, painem, subejo mereka tetap dapat eksis dalam hidup dan kehidupan. Kalau pemimpin mau berbaik hati kasih beberapa puluh ribu saat pemilu ya dengan senang hati mereka akan menerima. Mumpung si calon pemimpin masih ingat sodakoh daripada uang itu dibuat yang enggak-enggak mending mereka terima sekedar buat bikin perapian di dapur untuk esok hari.

Sikap keikhlasannya pun tak ada yang sanggup menandinginya. Bagaimana tidak, di tengah himpitan ekonomi dan gempuran bayang-bayang pertanyaan istri: pak e… berase entek, dan mereka pun masih asik bermain catur sambil menghisap sigaret dan wirid di kedalaman hati: Gusti Alloh mboten sare…

Ah, bangsa mana yang bisa menandingi bangsa kita. Setidaknya pemimpin kita harus berterimakasih banyak kepada rakyat yang nggak rewel minta anu, minta itu. Bahkan mereka sangat legowo ketika para wakilnya di ibukota minta dibeliin gedung baru. Sungguh para rakyat ini bener-bener orang tua yang sanggup ngemong anak-anaknya yang di gedung dewan itu. Coba, mana ada masyarakat super hebat seperti ini? Mereka semua layaknya para musafir pengkelana yang sudah anti keduniawian alias zuhud layaknya para wali.

Sabtu, 28 Mei 2011

Boncu kawanku


Boncu, mendengar nama itu aku langsung saja teringat sebuah wajah tak berdosa yang selalu tampak santai di kehidupannya.

 “ngopi kak genk”

Kata-kata itupun langsung meluncur ke dalam ingatanku. Tergambar juga dahinya yang super lebar, berkilau disinari sang surya. Samar-samar aku mencium bau yang tak asing dari indera penciumanku. Bau yang serupa parfum kata seorang guru sejarah SMA-ku dulu. Ya, bau itu adalah bau parfum tembakau. 

Belajar dari seorang Bonchu
Apa yang kupelajari dari si Bonchu kawanku ini adalah satu sikap yang langka dimiliki oleh kebanyakan orang sekarang. Sebuah sikap yang sebenarnya harus dimiliki oleh para petinggi di negeri ini. Sikap itu adalah kejujuran.

“Chu, dari tadi kok nggak pesen kopi?” kata seorang temanku di “kantor”

“iya, nanti aja”

“mbak, kopi satu lagi buat Bonchu” temanku langsung berinisiatif memesankan secangkir kopi manis untuknya.

“chu, rokoknya ini lho tinggal pilih, mau dharum, mild, samsu tinggal pilih”

Anda tahu kenapa si Bonchu ini ngggak mau pesen kopi? Itu semua karena ia sedang kena virus kantong kering alias nggak punya duit. Dan dengan sikapnya yang begitu secara tidak langsung ia telah mempraktekkan sebuah sikap yang mulia. Bahwa kalau nggak punya ya nggak punya. Nggak usah berlagak punya. Cobalah Anda lihat sikap para abege-abege sekarang. Mereka kebanyakan terbawa arus modernisasi dan berlomba-lomba untuk bergaya. Jikalau temannya ikut mode baru, mereka pun lalu ikut-ikutan seperti itu. Dan tak jarang demi mendapatkan wanita pujaannya, mereka bergaya layaknya seorang yang berduit. Mereka sepertinya lebih bangga menjadi orang lain daripada menjadi dirinya sendiri.

Minggu, 08 Mei 2011

LEK DHI, KAWANKU

Mendengar namanya pikiranku langsung mencari folder dalam tumpukan hardisk ingatan di memori otakku. Sarching.. searching… dan terpampanglah sebuah folder dengan tulisan 25 Desember. Ya, tanggal dan bulan itulah yang setiap kali muncul ketika aku mendengar namanya. Ruddy Prasetyo, itulah nama Indonesianya. Aku lupa nama Chinanya, ia keturunan China, berkulit kuning namun sangat medhok berbicara Jawa.

Apa yang akan aku ceritakan di sini mungkin dapat dijadikan refleksi mengenai keberagamaan kita yang rasa-rasanya semakin menemukan titik nadirnya. Semakin carut-marut, semrawut, seperti terkena penyakit menahun yang sudah akut.

Lek Dhi, begitu seringkali ia dipanggil adalah seorang katholik yang taat (semoga ngga salah inget). Namun demikian, ia dapat berbagi kebahagiaan kepada kami ketika tiba tanggal 25 Desember. Di hari Natal itu ia selalu mengundang kami untuk sekdar menikmati kenduri kecil-kecilan. 2 ekor ayam panggang selalu menjadi menu andalan ketika kami berkunjung di gubuk asrinya.

“ayo sini, ini ayamnya disembelih sendiri ya”

Begitu ayahnya mempersilahkan kami untuk memotong ayam sendiri. Betapa toleransi keberagamaan sangat terasa ketika itu. Rasa toleransi yang kini sudah menjadi barang langka. Barang langka yang semakin hari malah semakin amoh. Semakin tenggelam oleh keegoisan dalam beragama. Semakin tenggelam karena betapa sempitnya pemahaman dalam beragama.

Rasa-rasanya, tak ada agama yang akan menanggalkan kemanusiaan. Ketika sebuah nilai kemanusiaan telah hilang dalam keberagamaan, mungkin kita patut untuk mempertanyakan: sudah benarkah aku dalam beragama?

Minggu, 01 Mei 2011

Pengamen cilik dan pejabat teras

Mau nulis apa ya???? Kok bingung begini. Hah mungkin ini otak udah mbulet mumet. Liat manusia-manusia pada bingung nyari makan kok lucu ya. Bahagia katanya kalo dapet banyak duit, emang begitu ya???? Waktu lagi nulis ini lagu pengamen cilik keluar dari speaker simbaddaku. Pake kentrung, biasa lagu pengamen yang sering nemplok di angkot-angkot kota Bogor. Wah mending ini aja yang dibahas. Pas baget kaitannya antara bahagia dan duit. Rasa-rasanya kok pengamen-pengamen ini lebih bahagia ya. Dan ternyata pengamen-pengamen kecil ini tampaknya lebih kaya dari orang-orang Century. Ah masak iya???. Lhah emang bahagia dan kaya itu kan letaknya di hati. Masak????

Sore itu langit cerah. Biru mengembang sejuta bayang. Di sudut lanskap kutemukan sorot mata seorang bocah. Dengan asyik ia menghabiskan minuman di depan rumahnya, istananya, beralaskan bumi beratapkan langit.

T: “haus dek?”

J: “iya mas, mau mas?? Enak nih, mumpung masih satu gelas tuh”

T: “makasih dek”

Gila nih bocah, seharian mengamen serba kekurangan namun jauh di dalam lubuk hatinya ia begitu kaya. Karena manusia yang kaya itu berarti adalah mereka yang sanggup memberi. Apalagi apabila ia sanggup memberikan harta yang paling disayanginya (pikirku).

T: “tidur dimana klo malem??”

J: “di mana aja mas yang penting bisa nyeyak”

Busyet enak banget nih bocah. Aku aja klo malem akhir-akhir ini sering insomnia. Jadi kalong tepatnya. Tidur pagi melek malem. Ya okelah, coba kita analisis secara lebih lengkap. Di sini ada unsur kata: kaya, bahagia, duit, dan memberi.

Kaya. Apa itu arti kaya. Kalau dipikir-pikir kaya itu lebih dari cukup, dalam artian ada sumberdaya yang lebih dan itu berarti dapat dibagikan. Anak ini punya dua gelas minuman. Satu sudah setengah ia minum, satunya lagi ditawarkan padaku. Dalam konteks ini berarti ia sudah merasa cukup. “hartanya” berlebih, maka ia bagikan. Berarti ia kaya. Hm….

Pejabat itu pakaiannya wah, mobilnya banyak, istrinya cantik, rumahnya mewah. Tapi kok pelit banget ya???. Bahkan semua proyek digasak. Bisnis-bisnis dimonopoli. Ini berarti kebutuhannya belum semua tercukupi. Ia masih kurang. Ia perlu ditolong sepertinya. Disantuni. Weit, masak iya. Lhah klo orang udah banyak harta begitu siapa yang bisa menyantuni??? Hahahahaha

Bahagia. Apa definisi bahagia??? Jika bahagia didefinisikan dengan punya banyak duit ternyata pejabat yang pakaiannya wah, rumah wah, istri cantik masih perlu disantuni tuh. Di awal tadi aku sebutkan bahwa sepertinya pengamen kecil ini lebih bahagia. Mungkin. Mungkin ia telah paham akan lakonnya sebagai pengamen kecil. Jika demikian maka kata bahagia bukan melulu soal punya duit ato enggak. Bukan melulu punya harta berlimpah ruah. Jadi bahagia itu adalah mereka yang bisa mensyukuri apa-apa yang telah menjadi rejekinya. Bahkan kebahagiaan itu semakin bertambah manakala ia sanggup memberi. Memberi itu terangkan hati. Hati yang bening adalah pintu masuk bagi makanan jiwa. Kenapa memberi bisa mendatangkan kebahagiaan????

Ingat, manusia itu lahir tak membawa apa-apa. Oleh karena itu yang kita bawa sekarang hanyalah barang titipan. Barang titipan yang suatu saat diambil oleh yang empunya. Masak sih??? Gw kan dapet semua ini berkat usaha??? Hmmmm…. Jika pikiran Anda demikian maka samahalnya Anda adalah Qorun. Sebuah kisah yang diceritakan dalam kitab suci orang Islam. Tapi gw kan bukan orang Islam dan gw kagak percaya itu yang namanya kitab suci!!!!! Waduh susah neh jelasinnya. Oke kita bahas dari pendekatan yang lain. Tadi kukatakan bahwa manusia lahir tidak membawa apa-apa. Bahkan sejak lahir ia hanya bisa menerima. Hanya diberi. Diberi melulu. Diberi air susu, diberi perlindungan, diberi kasih sayang, dll. Setuju???? Dan nanti jikalau manusia mati ia juga gak bawa apa-apa lagi, betul???? Iya-iya tapi kan harta ini bikin bahagia, bikin hidup layak???? Yayaya, memang harta itu bagian dari kebahagiaan, tapi itupun bagi orang yang mampu memahaminya. Bukankah manusia itu tak pernah merasa puas??? Oleh karena itu jika sudah punya motor pengen mobil, udah punya mobil satu pengen dua, dst. Padahal alat pemuas kebutuhan jumlahnya terbatas. Jikalau setiap pemenuhan kebutuhan diartikan sebagai bahagia, jadi manusia gak akan pernah bisa bahagia donk??? Udah dapet ini pengen itu, dapet itu pengen ini. Susah ya jadi manusia. Ikan aja kalau udah kenyang diem kok. Lhah ini manusia ternyata laper melulu. Laper, laper, laper, laper terus itu namanya nafsu. Udah punya istri cantik mau yang laen. Abege kayaknya manteb nih, bahenol bok??? Masih rapet, aih ajib!!!!. Hahaha suit suit. . . . cinta atau nafsu???? Nafsu atau cinta???

Biasanya manusia sadar akan hidup ketika ia sudah kakek-kakek atau nenek-nenek. Atau lebih tepatnya lagi saat ia ingat mati. Maka tak jarang kebanyakan orang yang sudah mapan dan menyadari akan hal ini mereka ingin mengabdi. Mengabdi setulus-tulusnya kepada masyarakat. Karena pada dasarnya kita ini adalah abdi. Tugas abdi adalah memberikan pengabdian. Samahalnya, jika Anda percaya pada Tuhan mengabdi kepada masyarakat pada dasarnya adalah mengabdi pada Tuhan. Menjaga keseimbangan alam, menjadi greenpeace, pecinta alam pada hakekatnya adalah mengabdi pada Tuhan. Ini adalah ibadah yang utama. Bukan ibadah, kalau orang pergi haji tapi tetangganya kelaparan. Tanya kenapa?????

T: eh dek, ngamen seharian dapet brapa???

J: ngga tentu mas, kadang banyak kadang dikit. Antara 10.000-30.000 lah. Itu udah lebih dari cukup wat makan sehari kok. Kalau bulan ramadhan ma musim kampanye tuh paling enak mas. Kadang kita diajak makan bareng.

T: lha kamu pernah diuber-uber satpol PP ngga???

J: wah sering mas, hahaha. Enak juga sih wat selingan maen petak umpet ma satpol PP. tapi mereka galak tuh mas, jadi jangan mpe ketangkep. Masnya ni udah kerja ato belum???

T: aku ni mahasiswa dek???

J: owh… mahasiswa ya, yang sering demo di depan istana itu ya???? Aku kemaren ketemu ma mahasiswa juga lho mas. Ia duduk di jembatan sana. Stress katanya. Dapet kerjaan susah. Aku suruh ngamen aja mas, tapi mungkin ia malu ya. Masak lulusan perguruan tinggi jadi pengamen hahahaha. Tapi sebenarnya ngga papa toh mas. Lha wong aku ni klo ga dikasih juga ga maksa. Aku mending jadi pengamen mas daripada hanya minta-minta. Aku masih bisa nyanyi. Suaraku kan merdu hahahahaha. . . minumnya diabisin mas. Sayang kalau kebuang. eh mas, itu para mahasiswa kok suka demo kenapa sih???

Busyet ni bocah. Pengen tahu aja. Bayangkan pengamen aja punya rasa ingin tahu yang besar. Ini orang Indonesia Bung!!!! Cerdas walau makan cuma pake ikan asin doank padahal tanah airnya begitu kaya. Aku jadi teringat kata-kata Soekarno:

“kita ini kaya, kaya, kayaraya Saudara-saudara. Berbesarhatilah, ber-imagination. Gali, bekerja, gali, bekerja. Kita adalah satu tanah air yang paling cantik di dunia”.

Sungguh sangat disayangkan sebuah negeri yang sangat kaya ini masih banyak orang miskin. Hidup tidak layak. Buktinya masih sering bahkan sepertinya makin banyak saja kujumpai pengamen-pengamen kecil seperti ini. Sedang di balik istana sana, dibalik gedung wakil rakyat sana. Manusia-manusia mengenakan pakaian wah, mobil wah, rumah wah, gila. Kontras sekali dengan kehidupan bocah kecil ini. Dimana ini yang salah???? Belajar dari anak pengamen ini jelas pokok intisari sebab ada pada diri kita sebagai manusia. Jika kiblat, iman, Tuhan kita adalah nafsu maka cita-cita masyarakat yang adil makmur sejahtera tak akan pernah tercapai. Sebaliknya jika nafsu, ego telah dapat kita atur. Maka takkan ada yang namanya kasus Century. Takkan ada makelar hukum. Semua orang ingin keadilan saudara-saudara. Dan mengadili itu sangatlah berat. Maka jangan mengadili orang lain jika Anda belum sanggup “mengadili” diri sendiri.