Tampilkan postingan dengan label pemalas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemalas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 September 2011

PKBM masuk kategori filsafat, oh….

Beberapa hari yang lalu salah seorang temanku sms: waktu gue jalan2 ke gramed gue menemukan buku berkover hitam di bawa seorang anak kecil dan dijatuhkan di rak sebelahku. Waktu gue lihat sepertinya gue kenal sama pengarangnya. Judul bukunya Pemalas itu: kaya, bahagia, dan menikmati hidup hahaha…

What? Sekali lagi berarti gelombang otakku sinkron dengan gelombang otak temanku tersebut. Dan memang dalam halaman ucapan terimakasih pun aku menyematkan namanya. Ia termasuk salah satu orang aneh yang telah berdiskusi denganku jauh-jauh hari sebelum pembuatan buku “iseng” tersebut. 

Sekarang kita coba analisa cerita tersebut: sang pembawa buku itu hingga mampir di mata salah seorang temanku adalah anak kecil. Anak kecil adalah perlambang keluguan, kejujuran, dan mereka selalu memandang segala kejadian dengan apa adanya tanpa persepsi apapun. Mereka memandang dengan dua bola mata bukan dengan mata “dajjal”. Dan memang, materi dari buku tersebut sengaja aku sajikan untuk merombak persepsi pembaca kembali pada zero mind. Dalam kajian fisika kuantum, titik ini adalah titik dimana semuanya bermula, ada yang mengistilahkannya dengan “God partikel”. Di titik inilah bahan baku sebuah “KEJADIAN” diramu. 

Jadi wajar saja jika buku itu oleh pegawai gramed dimasukkan dalam kategori filsafat dan agama serta sub kategori filsafat. Dan memang setelah aku cek di beberapa gramed buku “aneh” tersebut nongkrong di deretan rak buku filsafat atau psikologi popular. Yup, aku nggak mau hanya jadi “tukang sayur” yang bisanya hanya jualan “bahan mentah”. Oleh karena itu materi yang kusajikan kebanyakan berasal dari pengalaman nyata bukan hanya “katanya” saja. 

Dalam istilah agama, filsafat tergolong usaha untuk mempergunakan “aql” atau akal dalam mencari solusi dari problematika kehidupan. Penggunaan “aql” ini pun diwajibkan oleh Al Quran untuk beragama. Bahkan Allah marah jika manusia tidak menggunakan “aql” alias hanya ikut-ikutan saja. Jika kita ingin memperoleh pengetahuan yang lebih murni maka mau tak mau kita harus mempergunakan potensi tersebut. Bagaimana caranya? Pertama kita olah pengetauan luar tersebut dengan menggunakan pikiran “fikr”. Biasanya akan timbul beragam pertanyaan jika pengetahuan luar tersebut berbeda dengan apa yang kita dapat selama ini. Proses inilah yang akan memaksa kita untuk menggunakan “aql” dengan jalan perenungan, kontemplasi, meditasi, tafakur, qalwat atau istilah apapun yang Anda nyaman dengannya. 

Apa-apa yang sudah kita dapatkan akan mengendap di alam bawah sadar dan untuk dapat mencerna hal-hal yang baru maka sikap open mind sangat diperlukan. Konsep inilah yang oleh para hipnoterapy digunakan untuk merubah mind para kliennya. 

Anda tahu mengapa Ibrahim menjadi rasul kesayangan? Jelas karena Ibrahim mencari dengan segenap potensi kediriannya dalam mencari Tuhan.

Catatan:

Jika Anda berminat membaca buku tersebut silahkan Anda cari saja di Gramed. Buku tersebut dicetak dengan sangat terbatas, di salah satu gramed bogor juga sudah habis stok, maklum buku indie dan hanya untuk aktualisasi diri saja. Mengapa menggunakan indie label? Jelas karena isi materi buku di luar pakem dan aku nggak mau isinya dirombak oleh para editor dan copy editor. Anda tahu mengapa banyak penerbit dengan karakter yang berbeda-beda? Itu semua karena bahan bacaan pun juga disetir oleh para pemain di belakang layar layaknya cerita drama yang dikarang sang sutradara. Indie label memungkinkan untuk membaypass proses tersebut. Untuk hal ini aku sangat berterimakasih kepada kru INDIE BOOK CORNER. Jika Anda kesulitan mendapatkan buku tersebut, Anda dapat memesannya di INDIE BOOK CORNER atau di gramediaonline mungkin masih ada. Semoga bermanfaat…

ini dia yang sudah praktek virus malas:
"orang sukses itu pemalas"
"malas itu jurus ampuh jadi enterpreuner"
"saya malas maka saya sukses"

MEREKA JUGA ANAK-ANAK KITA


Beberapa minggu terakhir ini banyak stasiun televisi yang menyiarkan tawuran antar pelajar diberbagai kota, baik mereka yang masih duduk di bangku SMU maupun perguruan tinggi. Melihat kejadian ini lantas beberapa pihak menyalahkan mereka tanpa pernah instrospeksi diri sendiri sebagai orang tua. Para pelajar itu adalah anak-anak kita. Mereka juga bagian dari keluarga kita yang membutuhkan teladan serta kasih sayang.

Sikap anarkis mereka justru merefleksikan diri kita sendiri yang mengaku sebagai orang tua. Ini adalah realita. Realitanya banyak generasi muda kita yang menjadi beringas dan mudah terpancing emosinya dan itu jelas akibat pola didik kita-kita juga. 

Walau saya selaku pengasuh blog pemalas bukanlah pakar psikologi, namun ijinkanlah saya untuk menganalisis realita ini seobjektif mungkin. Dalam pandangan saya, luapan emosi pelajar itu jelas merupakan pengalihan atas hasrat yang tak tersalurkan. Banyak kemungkinan yang dapat mendasari hal ini. Factor keluarga jelas secara langsung ataupun tak langsung juga akan berpengaruh bahkan bisa jadi itu adalah factor utama penyebabnya. 

Para pelajar seumuran mereka tentulah berada dalam masa-masa transisi dari muda menuju dewasa. Dapat dikatakan pula mereka adalah kaum dewasa muda yang masih haus akan pencarian jati diri. Oleh karenanya bimbingan dan teladan orang tua sangat dibutuhkan. Namun apa lacur, kesibukan orang tua kerja keras banting tulang dalam mencari nafkah untuk keluarga sedikit banyak telah memperkosa hak mereka sebagai anak untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang. 

KESALAHAN BERSAMA

Jadi, apakah orang tua yang patut disalahkan? Tidak demikian. Ini adalah masalah kesadaran. Kesadaran akan hidup yang sudah lama terpendam dalam hati sanubari. Sudah sejak dulu saya menolak doktrin kerja keras dan menggantinya dengan jalan malas, namun masih banyak juga yang malah mencibir. Apa perlu saya sindir kembali?

Lhoh kok malah nyangkut ke kerja keras segala? Ya… bagaimana tidak. Kerja keras adalah pangkal segala pangkal kebobrokan itu jika kita mau mencermatinya. Dalam kamus saya tak ada kata kerja keras. Tolong perhatikan, sudah berapa orang yang selalu berkoar-koar mengenai kerja keras ini. Tak peduli para guru, dosen, professor, sampai presiden sekalipun selalu mendeskripsikan dirinya dengan pekerja keras. Sungguh menggelikan, bahkan para atlit olah raga pun selalu ngomong kerja keras atas prestasi gemilangnya. Padahal apa yang mereka lakukan adalah jalan hidupnya. Para pemain sepak bola adalah mereka yang menggemari permainan itu. Jadi, mana mungkin bias dibilang kerja keras?

Anda ingin tahu siapa pekerja keras itu? Mereka itulah yang selalu merasakan tekanan bathin dalam dirinya sendiri dan berpura-pura menutupinya. Mereka itulah para maniak hari libur, jam kosong, dan waktu-waktu dimana si bos tidak berada di tempat. Apakah Anda belum menyadarinya? Sungguh? Apakah realitas yang demikian membelalak mata juga belum Anda lihat?

Ketahuilah efek perasaan Anda yang selalu tertekan saat atasan Anda marah-marah itulah biang pangkal segala keruwetan ini. Secara kuantum, pendaran gelombang perasaan yang Anda kirimkan ke alam semesta ini akan menarik gelombang yang sama frekuensinya dan kembali menimpa Anda. Efek domino dari hal tersebut sedikit banyak juga akan menimpa keluarga Anda bahkan lingkungan sekitar pun akan mendapatkan efek yang sama. Anda bisa bayangkan, betapa mengerikannya jika ternyata sebagian besar penduduk di muka bumi ini ternyata adalah para pekerja keras yang justru semakin hari semakin menjamur keberadaannya, ah…. 

Detik ini, bangsa ini bahkan dunia telah menerima akibatnya. Dalam artikel di sini sudah saya jelaskan secara gamblang bahwa kita sekarang hidup di atas kapal Nuh yangretak. Kita semua bangkrut. Bangkrut dari rasa saling memiliki, bangkrut dari rasa menyayangi, dan bangkrut dari sisi kemanusiaan kita. Bangkrut dari Cinta.

Cara memuliakan Cinta adalah memuliakan ciptaanNya karena kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Tuhan.
-Mata Elang-

Kamis, 28 Juli 2011

PENDAKIAN, INILAH MINIATUR HIDUP

Pendaki adalah pencari jalan. Seorang pendaki itu tujuannya jelas, mencapi puncak. Samahalnya kita hidup tujuannya jelas. hidup tanpa tujuan, seperti pendaki yang tersesat di gunung, berarti mendekati kematian. Tersesat dalam hidup adalah membunuh diri perlahan. Untuk meraih puncak tertinggi, sang pendaki membutuhkan proses yang panjang, begitupun dalam hidup. Harus berjalan selangkah demi selangkah. Jalan yang ditempuh tidak selamanya datar, tidak selamanya lurus. Adakalanya mendaki, ada saatnya pula jalan itu harus menurun.Yang mendaki kadang begitu terjal, yang turun tidak jarang curam. Akan muncul banyak persimpangan, tantangannya adalah memilih simpangan yang tepat, agar langkah kita tetap terarah ke puncak. Begitupun dalam hidup, konsisten dalam niat adalah salah satu kunci keberhasilan.

Sang pendaki tidak selamanya terus berjalan. Kadang harus berlari, kadang perlu berhenti sejenak, mengatur nafas kembali, dan memulihkan tenaga. Begitupun hidup. Akan ada momen, yang menuntut kita untuk “bekerja” dengan cerdas, memaksa kita untuk lebih detail berpikir, dan ada pula momen yang memberi kita kesempatan untuk menata ulang strategi mencapai tujuan. 

Jalanan setapak yang ditempuh pendaki, tidak selamanya lapang. Kadang akan jadi sempit dan penuh belukar, kadang harus melipir, menyisir pinggiran jurang. Sang pendaki harus melangkah lebih hati-hati. Begitupun dalam hidup, semangat tidak selalu menggebu. Sang pendaki akan menemukan waktu dimana ia merasa sangat jenuh, sangat putus asa, ingin berhenti, ingin turun lagi, menyerah, kalah. Begitupun hidup. Tidak selamanya kita berada pada kondisi jiwa dan tubuh yang prima. Menjaga semangat, kemampuan untuk bangkit lagi, bangun dari keterpurukan akan jadi hal penting yang akan menuntun lagi langkah kita. Untuk mendaki gunung, diperlukan persiapan yang matang, persiapan fisik, mental, teknis, perbekalan. Persiapan yang baik akan memudahkan kita meraih puncak, begitupun dalam hidup. kita perlu ilmu, perlu spiritual, perlu hati, jiwa, dan raga.

Menjejakkan kaki di puncak adalah klimaks pendakian. Sebuah kepuasan akan mengalir alami merasuki batin pendaki. Kepuasan sesaat yang akan memaksa pendaki mencari puncak-puncak baru lagi, kepuasan lain yang lebih menantang, lebih membutuhkan persiapan yang matang, perlu menempuh perjalanan yang lebih panjang. Begitupun dalam hidup. Pencapaian sebuah tujuan bukan berarti akhir kehidupan, tujuan-tujuan lain yang lebih besar menantang kita, merayu untuk diraih. Memberi idaman kehidupan yang mungkin lebih hidup. 

Puncak gunung adalah bagian bumi yang paling dekat dengan langit, seakan memberi isyarat pada manusia. Pencapaian puncak gunung adalah perjalanan menuju “langit”. Pencapaian tujuan hidup adalah perjalanan menuju Tuhan. 

Begitu banyak puncak gunung yang ada di dunia. Seolah mengisyaratkan bahwa hidup tak akan pernah bisa dimengerti sepenuhnya. Begitupun Tuhan, Ia adalah khazanah yang tersembunyi. 

Jika tujuan pendakian adalah mencapai puncak, Lalu, apa sebenarnya tujuan hidupmanusia? Mengapa Anda hidup?

(blog Mas -endjivanhouten- edited by mata elang)

Rabu, 27 Juli 2011

Ketika niat telah dibengkokkan

Malam itu aku tak bisa tidur, aku begitu gelisah. “duh Gusti, aku harus bagaimana?”. Kulangkahkan kaki kecilku keluar dari rumah kayu itu. Aku beranjak keluar manapaki butir-butir pasir yang dihempas gelombang. Aku memilih menyendiri di malam itu. Seperti kebiasaanku dulu. Menyendiri manakala hati ini sedang gundah. 

Kunyalakan sebatang sigaret di tengah dinginnya malam. Angin laut memang tak begitu kencang berhembus. Akan tetapi, yang namanya laut di malam hari tetaplah dingin. Kucari selembar triplek yang berserakan. Kurebahkan tubuh kecilku di atasnya. Aku menerawang bintang gemintang, juga bulan perak yang tampak meneduhkan. 

Aku teringat waktu awal pertama kali datang ke pulau ini. Ya, dulu aku berdoa kepada Tuhan. “duh Gusti, tempatkalah diriku ini di tempat dimana aku bisa mengamalkan ilmu dariMu”. Tuhan tak bohong, selang tiga hari aku ditawari untuk menjalankan proyek penelitian di Pulau Seribu. Sungguh, aku sangat girang. 

Pagi sekali, lebih tepatnya sebelum subuh. Aku berangkat dari rumah kontrakan. Rencananya aku akan survey lokasi bersama mantan dosen pembimbingku. Selain itu, juga ada kepala komisi pendidikan dan seorang dosen nutrisi ikan. 

Ternyata perjalanan siang itu tak berjalan mulus. Kami ketinggalan boat. Dengan terpaksa kami menyusun rencana sembari bersantai ria di Pantai Ancol. Saat itu, si pemilik perusahaan datang menghampiri kami, dan memutuskan menyewa kapal saja untuk menuju pulau.

Ikut bersama rombongan bos-bos besar tak menciutkan nyaliku. Aku berlagak cool saja, seolah sudah biasa. “jikalau aku minder, mana ada yang akan menghormatiku?” kataku dalam hati.

Singkat cerita, kami sudah berada di pelabuhan. Siang itu sangatlah panas. Angin berhembus kencang. Parahnya, kapal itu ternyata juga sekalian dipakai untuk membawa logistic kebutuhan perusahaan. Benar saja, kapal kelebihan muatan. Sesampainya di tengah laut mesin kapal jebol. Big Bos (orang tua pemilik perusahaan) marah-marah kepada pemilik kapal. 

Cukup lama kami terombang ambing di tengah laut. Menunggu kapal bantuan dari pulau. Sembari menunggu, aku melihat sekeliling. Menatap horizon nun jauh di sana. Aku sempat ragu, mungkin ini pertanda buruk. Sudah lebih dari setengah jam kapal bantuan tak kunjung datang. 

Kapal terseret arus, menjauhi pulau. Kami benar-benar tak bisa berbuat apa-apa di tengah kondisi seperti ini. Kami tak membawa jangkar. Kapal bantuan sudah dihubungi. Katanya sudah berangkat. Akan tetapi, sudah lebih dari setengah jam bahkan mau satu jam ia masih tak kelihatan, Suaranya pun tak terdengar. Sempat juga kami memasang bambu yang ujungnya diikatkan sebuah plastik. Berharap itu dapat menjadi pertanda keberadaan kami. 

Di tengah kekhawatiranku, sekejap hatiku kembali yakin. Saat kulihat ke arah langit, sederetan awan tiba-tiba tampak hidup. Mereka tampak menari-nari digerakkan sang angin. Sungguh cantik. Tepat di puncak keraguanku, Sang Maha Kuasa tampak menorehkan namanya di langit sana. Seolah Ia mengisyaratkan padaku: teguhkan niatmu!!!

Tampaknya, rombongan terlalu sibuk memikirkan kapal yang rusak. Mereka terlalu gelisah dan tak sempat melihat ukiran cantik di atas sana. Ada yang tidur, baca koran, dan ada yang terus saja menggerutu, mengutuki pemilik kapal sewaan yang mogok itu.

Tek.. tek.. tek.. tek.. tek.. tek suara berisik di kejauhan membuyarkan lamunanku. Secepat itu pula kumpulan awan tadi berarak kembali. “itu dia kapalnya?” salah seorang pegawai berteriak kegirangan melihat nun jauh di sana tampak sebuah benda bergerak-gerak mendekati kami. Ya, aku juga melihatnya. Sebuah kapal kayu kecil tampak mendekati kapal yang tengah terombang ambing ini.

---ooo0O0ooo---

Malam semakin dingin, kulihat jam di handphoneku. Sudah hampir pagi. Aku terpaksa harus kembali ke dalam rumah. Masih saja aku tak bisa tidur. Kunyalakan televisi. Kulihat acara dini hari. Tak ada apa-apa. Mungkin stasiun televisi sudah sama mati. Hanya ada gambar semut di layar itu. Cuma ada satu stasiun yang masih tayang. Aku lupa chanelnya. Mungkin juga ini adalah acara pamungkas di stasiun TV itu. Biasanya, acara pamungkas kalau tidak lagu nasional ya kultum.

Aku rasa ada yang aneh di sini. Aku memang sudah sering melihat Arifin Ilham di televisi. Ia terkenal dengan dzikir akbarnya, dengan majelis Adzikra-nya. Tapi kali ini benar-benar aneh. Bukan Arifinnya yang aneh, tapi isi ceramahnya yang aneh. Katanya; niat saja tak cukup. Niat itu akan terus di uji kualitasnya. Teguh niat, itulah kunci ketetapan hati.
 
Keanehan tak berhenti di situ saja. Sejak kejadian itu, mimpi malam-malamku berisi hal-hal yang aneh. Ada dua mimpi yang memaksaku untuk segera mengambil keputusan. Mimpi pertama aku tampak marah-marah, dalam mimpi itu aku ingat betul bahawa aku marah dan sesaat setelahnya aku segera naik kapal, pulang dengan wajah muram. Mimpi kedua aku melihat bahwa salah seorang karyawan yang juga sedaerah denganku tenggelam waktu menjalankan tugasnya di keramba. Ia berhasil selamat, namun salah satunya kakinya putus disambar ikan barakuda yang besarnya mencapai seorang manusia dewasa. 

Belakangan aku menyadari bahwa memang aku kecewa. Dan untuk mimpi kedua adalah pertanda bahwa ibu dari bawahanku itu sakit yang mengakibatkan beliau harus dirawat di rumah sakit. Semula karyawan itu tak mau kuajak pulang. Ya, aku tak memaksa. Sehari sebelum aku pulang, ia sms kepadaku. Waktu itu ia sedang berada di Pulau Kelapa untuk memindahkan keramba. Keramba di lokasi ini sangat tidak cocok untuk budidaya. Oleh karena itu, habis rapat dengan petinggi-petinggi perusahaan beserta para konsultan akhirnya diputuskan untuk memindahkan keramba itu ke Pulau Kelapa.

“Mbah, sesuk nak arep bali aku enteni yo” (Mbah, besok kalau mau pulang tunggu aku ya)
“lhah, kenopo?” (lhah, kenapa?)

“Aku bar entuk kabar, emakku mlebu rumah sakit. Penyakite kambuh. Aku kudu bali” (aku baru dapat kabar, ibuku masuk rumah sakit. Penyakitnya kambuh. Aku harus pulang)
Goodbye Pulau Seribu

Siang itu aku sangat girang bukan kepalang. Entah mengapa, padahal aku memutuskan keluar dari perusahaan itu. Keluar dari sebuah kemapanan dan kenyamanan akan kebutuhan hidup berupa materi.

“maaf Pak, saya di sini niatnya untuk penelitian, bukan bekerja nyari duit”

Itulah alasan yang sebenarnya selalu menghantui tidur-tidur malamku di pulau itu. Untuk mempertahankan sebuah niat maka mau tak mau aku harus keluar, harus… tidak bisa tidak. Ya, aku mengorbankan sebuah kenyamanan dan mengambil sebuah zona ketidakpastian. Namun bukankah hidup ini serba tak pasti?

“sebelas januari bertemu…” klek

“hallo mas, maaf kalau mau ikut ke Ancol, waktunya sekarang. Kapal boat sudah berangkat dari Pulau Tidung. Masnya segera saja ke Pulau Payung Besar. Nanti kita bertemu di sana. Jangan telat ya mas. Maaf, kami ada rapat mendadak di Ancol”

Hah, aku kelabakan. Jadwal keberangkatan kapal dipercepat, sedangkan itu adalah satu-satunya kapal yang menuju Ancol. Dengan segera aku mengemas semua barang-barangku dan memberitahu Pak Dedy. Beliau adalah seorang yang menjabat sebagai pengawas di perusahaan itu. Sebenarnya, kedudukanku setara dengannya. Namun mau bagaimana lagi, bawahanku taunya aku sedang mengerjakan proyek penelitian di sana. (Perihal dimasukkannya diriku ke dalam perusahaan, tak aku ceritakan di sini.  Maaf, demi kultur dan etika yang berlaku di masyarakat maka hal itu kurang bijak untuk dipaparkan. Yang pasti, masalah itu terkait dengan prinsip dan niat.)

“kenapa Lang? Bukannya berangkatnya kapal jam satu siang?”

“tidak Pak, tadi saya baru dapat kabar bahwa keberangkatan kapal dipercepat karena ada rapat mendadak di Ancol.”

Yah, masih saja aku tak dipercaya oleh beliau, maka mau tak mau beliau aku minta untuk menelpon sendiri dan berbicara langsung dengan orangnya.

“ow… begitu ow.. begitu, ya ya ya.”

Kata-kata itu yang terakhir aku dengar dari percakapannya di telepon. Dan akhirnya detik itu juga aku diijinkan untuk pulang. Segera setelah aku berpamitan, bergegaslah aku menuju kapal kayu perusahaan untuk diantar ke Pulau Payung Besar. Aku tak sendiri, beberapa pegawai perusahaan ikut pulang denganku. Merekapun segera membuntuti langkahku.

Bunyi mesin kapal tak karuan. Sama seperti degub jantungku yang was-was. Apakah aku akan terlambat? Ah, kapal kayu ini terlalu lambat. Waktu seolah mulur menjadi semakin lama. Tiap detik sangatlah berarti buatku. Aku semakin gelisah. Mungkin karena hatiku ingin segera meninggalkan pulau itu. 

Kutolehkan pandangan mataku ke arah Pulau Tidung. Dan yah.. itu dia kapal boatnya. Sebuah benda putih tampak melaju kencang membelah lautan. Nampak dalam pandanganku buih putih tersembul di belakang kapal. Jejak kapal itu begitu jelas, menandakan cepatnya benda itu melaju.

Kapal kayu ini tak mungkin bisa mencapai Pulau Payung Besar mendahului kapal boat itu. Tak perlu perhitungan fisika yang njelimet untuk meramalkan ini. Diperhatikan saja sudah kelihatan. Kekhawatiranku tak terbendung lagi. Aku hanya bisa pasrah melihat semua ini terjadi. Seolah rencanaku kandas.

Namun tunggu dulu. Sesampainya di tikungan karang, tiba-tiba benda putih itu memperlambat laju kecepatannya. Tampak buih-buih putih tak menggunung seperti yang kulihat sebelumnya. Hatiku kembali bersorak. Yesss…

Kapal boat mencoba menyebelahi kapal kayu ini. Akhirnya kedua kapal ini berhenti. Berdempetan di antara keduanya. Setelah dikomando, aku dan beberapa karyawan lainnya bergegas untuk pindah kapal. Di tengah laut itu, aku merasa seperti seorang tahanan yang sedang diselamatkan oleh pasukan khusus sekelas pasukan katak di negeri ini. Duh Gusti, matur nuwun…

Di bangku tengah aku merebahkan tubuhku. Sejenak kutolehkan pandanganku ke Pulau Payung Kecil, menembus kaca-kaca kapal yang sedikit buram. Kapal boat melaju, pulau itu tampak semakin mengecil dalam pandanganku. Goodbye Pulau Payung Kecil, terimakasih telah kau ijinkan diriku sejenak menapak dan mengukir fragment hidupku di atas bulir-bulir pasir putihmu. Sampai bertemu kembali… 



Tips malas: bersenang-senanglah, jika apa yang kamu lakukan tidak menyenangkan, tinggalkan saja. Ikuti kebahagiaan tertinggimu.